
Siang ini memang tidak seperti biasanya,
cuaca Mesir kali ini mencapai 30 derajat celcius, suatu hal aneh yang
terjadi di musim dingin tahun ini. Untuk mengisi liburan akhir pekan,
kami sekeluarga dari Maadi Cairo memutuskan untuk jalan-jalan ke kota
Qonatir Al-Khoiriyah yang jaraknya sekitar 25 kilo meter dari tempat
tinggal kami, hanya berbekal peta dari laptop kami berangkat dengan
mobil sedan putih yang sedikit kusam tersapu oleh debu-debu gurun,
meskipun sempat tersesat kami bersyukur karena sampai juga ketempat
tujuan dengan selamat.
Sesampainya di Qonatir Al-Khoriyah, kami melihat banyak orang disana,
mereka bukan penduduk daerah setempat melainkan orang dari kampung lain,
bahkan banyak juga dari luar kota. Di Qonatir Al-Khoiriyah terdapat
bendungan yang indah dimana terdapat dua cabang sungai Nil yang disebut
cabang Rosetta dan cabang damietta, sebagai sarana untuk mengendalikan
aliran air kedalam Delta Nil, sehingga irigasi di daerah Delta dapat
dikendalikan sepanjang tahun, bukan musiman. Disana juga terdapat
taman-taman indah komersil dengan tiket masuk yang sangat murah, 2 LE
sampai 3 LE. Para penduduk setempat juga banyak menyewakan kuda, sepeda
dan motor dengan harga terjangkau. Bagi yang mempunyai hoby mancing
disana bisa jadi tempat yang menyenangkan.
Setelah mendapatkan tempat parkir sebagian dari kami menyewa kuda untuk
menjelajahi indahnya bendungan yang tampak gagah itu dan sebagianya
memilih untuk jalan kaki sambil menjepretkan kameranya disana-sini.
Kami melihat keramahan warga ataupun pengunjung lainya disana, tidak
jarang mereka melemparkan senyum pada kami sebagai tanda selamat datang,
ada juga yang berani langsung menyapa dengan mengucapkan “welcome to
Egypt”. kami sangat senang disana mendapati orang-orang yang ramah
ditempat yang indah.
Sepanjang bendungan kami berkali-kali harus tersenyum untuk membalas
senyuman dari orang yang kami jumpai, tidak jarang kami mendengar kata
“ni hao” bahasa China yang berarti apa kabar?. Tiba-tiba datang tiga
anak umurnya sekitar belasan tahun, mereka minta difoto, dengan senang
hati pula kami memotret mereka bertiga dan memperlihatkan hasilnya
dikamera, meraka tampak gembira sambil mengangkat ibu jarinya kearah
kami sebagai tanda foto itu bagus. kemudian mereka bertanya “Shiny?”
yang berati apakah kamu orang China?, kami menjawab menggunakan bahasa
arab juga “La, ana Andunisy”, Bukan, kami orang Indonesia. mendengar
kami menjawab dengan bahasa Arab, mereka menjadi tertarik dan bertanya
kembali “kalim arobi?” bisa bahasa Arab?, kamipun menjawab “Aiwa” yang
berarti iya. Obrolan kami berlanjut panjang, mulai dari berkenalan
sampai mereka bertanya, Indonesia itu mana? apakah sampingnya negara
China?, seolah-olah orang yang mempunyai fisik asia seperti kami ini,
semuanya mereka anggap orang China dan ini tidak terjadi di daerah
Qonatir Al-Khoriyah saja, ditempat lain kami juga kami medapati hal yang
serupa, sering disapa dengan kalimat “ni hao”.
Kami berfikir, apakah karena perdagangan China lebih menguasai pasar
Mesir dari pada negara lainya, sehingga ini yang menyebabkan orang Mesir
lebih tahu China dari pada yang lainya. Padahal Orang Indonesia tidak
kalah banyak dari orang China yang tinggal di Mesir. Filipina, Thailan
dan Singapura juga tidak sedikit, tetap saja kebanyakan orang Mesir
menganggap semua orang asia adalah orang China.
Jika kita ke pasar ataupun ke toko-toko, barang-barang dari China akan
mudah kita temukan, beraneka bentuk dan warna, dari tusuk gigi sampai
panci. Jika anda sempat jalan-jalan ke Mesir, Amati dulu belanjaan anda
apakah buatan Mesir? karena banyak juga souvenir-souvenir khas Mesir
yang buatan China.
Sumber: Kompasiana
0 komentar:
Posting Komentar