Di Mesir, pekan ini bukanlah hal yang
biasa dimana semua orang berbondong-bondong ketempat wisata untuk
berlibur. Libur nasional kali ini untuk memperingati datangnya musim
semi yang biasa di sebut “Sammun Nasim”. Setelah melewati musim gugur
disusul musim dingin, Mesir kelihatan lebih cantik saat ini, pohon-pohon
mulai tumbuh daunya dan bunga-bungapun mulai bermekaran warna-warni
sepanjang jalanan kota.
Tidak hanya orang Mesir yang
menikmati liburan kali ini, kami sekeluarga juga tidak mau
melewatkannya. Meluncur ke “Ainus Suhna” menggunakan mobil pribadi
dengan jarak tempuh sekitar 120 Km dari kota Kairo, membuat kami tidak
sabar untuk segera sampai dipantai “Ainus Suhna” yang bersambungan
dengan terusan Suez tersebut.
Sesampai ditempat tujuan, kami mendapati
pantai yang tertutup, berkomplek-komplek seperti layaknya perumahan,
ketika ingin masuk pantai harus juga menyewa hotel atau rumah minimal
sehari. ketika sudah diputuskan untuk menyewa hotel sebagai sarat masuk
pantai, kami harus kecewa untuk kedua kalinya karena semua hotel yang
ada sudah penuh, “Ahsan Agazah” yang artinya sekarang lagi hari libur,
harusnya hotel dipesan seminggu sebelumnya, kata petugas pantai di sana.
Kami segera kembali ke kairo dan menuju
tempat wisata lainya, kali ini bukan pantai yang dituju melainkan masjid
tua peninggalan Dinasti Fatimiyah yang masih kelihatan megah sampai
saat ini yaitu masjid Hakim Bi Amrillah, Masjid ini dibangun tidak lama
setelah Masjid Al-Azhar, bentuk dan desainya juga hampir sama, setelah
keliling dan mengambil gambar, kami kembali kerumah.
Keesokan harinya kami menuju kota
“Dahshur”, yang terletak dipinggiran kota Kairo sebelah Timur kota
Sakara dan Geiza, piramid adalah tujuanya kali ini, meski bukan piramid
terbesar seperti halnya di Geiza, piramid Dahshur cukup menarik karena
memiliki bentuk yang unik tidak seperti lazimnya piramid-piramid lainya,
di “Dahshur” ini piramidnya biasa disebut pyramida bengkok.
Memasuki kawasan piramid, kami disambut
petugas yang memakai pakaian polisi, dengan ramah dia menanyakan
identitas kami dan kemudian mengarahkan ke loket tempat pembayaran tiket
masuk, “Ana Tholib” yang artinya saya pelajar, kami membuka percakapan
dengan petugas loket tersebut, “Fein Bithoqoh?” mana kartu pelajarmu?,
kami menunjukkan dua kartu pelajar yang kami punya, “Masyi” Oke, kata
petugas, kami hanya membayar setengah harga 15 LE perorang yang harusnya
30 LE.
Turun dari mobil, kami langsung naik
piramid dan ditengah-tengah ada pintu kecil untuk masuk, sambil merunduk
kami menuruni jalan terjal yang jauh kebawah dan melewati lorong-lorong
kecil baru sampai kesebuah ruangan besar yang pengap, belum salesai
sampai situ dipojok ruangan terdapat tangga naik yang tinggi menuju
sebuah ruangan, disitulah tempat mumi di kubur.
Pengunjung pada waktu itu tidaklah
banyak hanya sekitar 25 dan semua orang asing padahal hari itu adalah
“Sammun Nasim” hari peringatan datangnya musim semi, yang hampir semua
masyarakat Mesir pergi berlibur tapi tidak satupun terlihat di daerah
sekitar piramid tersebut. padahal satu hari sebelumnya pantai “Ainus
Suhna” penuh dan taman-taman yang kami lihat sepanjang jalan juga penuh
seperti lautan orang.
Sepertinya orang Mesir lebih suka
menghabiskan liburannya dipantai dan taman-taman karena lebih cocok
untuk menjadi tempat santai bersama keluarga, tidak seperti piramid yang
tandus, panas dan berdebu, itulah yang ada difikiran kami mengapa orang
Mesir lebih memilih pantai dan taman dari pada piramid, lain lagi
dengan wisatawan asing yang jauh-jauh ke Mesir sengaja ingin melihat
salah satu keajaiban dunia tersebut.
Sumber : Kompasiana
0 komentar:
Posting Komentar